Lampu Kuning dan Menikmati Hidup

lampu kuningBeberapa minggu lalu, saya ngobrol dengan atasan di kantor. Seringkali hubungan kami seperti teman kerja biasa, tentunya tanpa menghilangkan hormat saya meskipun kadang-kadang kami berbeda pendapat :).

Bercerita tentang perkembangan dunia profesional bidang kami sekarang. Begitu pesatnya, membuka tantangan dan kesempatan menarik untuk berkembang. Tiba-tiba beliau bilang, ibarat traffic light, seumuran kita kan sudah “lampu kuning”. Secara profesional mungkin masih banyak yang bisa kami kerjakan. Tapi di sisi lain sudah saatnya juga untuk bisa “menikmati hidup”.

Hhhhmmm..tersadar dengan kata-katanya. Meski mungkin konsep “menikmati hidup” kami berbeda, tapi saya yakin ada kesamaan memandang dalam bekerja. Bekerja dengan senang, sesuai passion, namun juga bisa menikmati hasil, bersenang-senang dengan keluarga, menikmati hobby, “me time” sewajarnya.

Bagi saya “lampu kuning” ini menyadarkan untuk tetap bersemangat dalam bekerja, berbisnis, menjalin pertemanan, hubungan dan senantiasa menambah ilmu. Menikmati hidup dalam impian saya adalah bebas bekerja tanpa terikat jam kerja, tetap bekerja sesuai bidang yang saya cintai. Membayangkan saya bisa antar jemput anak-anak sekolah, mengikuti pertemuan dengan sekolah, menimba ilmu agama lebih banyak, menengok ortu tanpa mikir cuti.
Intinya saya ingin bekerja dengan banyak syukur dan berkah, yang lebih bermanfaat buat banyak orang, memberikan ilmu. Mudah-mudahan bisa jadi bekal kelak bila saatnya dipanggil nanti.

Aiiih..kok jadi ngelantur sih…. 🙂

Ikuti/suka/bagikan
RSS
Follow by Email
Facebook
Facebook
SHARE
LinkedIn
Instagram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *