Antara Pekerjaan dan Impian

Tidak terasa, hari ini 7 tahun saya bekerja di Jawa Timur, setelah sebelumnya hampir 11 tahun bekerja di Jawa Tengah, lain pabrik dengan bidang yang sama.  Sudah tua ya? Hihi… Kalau bahasa halus dan kerennya di dunia profesional sering disebut senior lho.. 🙂

impian pekerjaanSebenarnya jauh di lubuk hati, cita-cita saya sejak kecil adalah menjadi seorang dosen, guru, pengajar, pendidik. Mungkin juga belum jodoh saya, karena begitu saya lulus, universitas tempat saya menyelesaikan S1 sedang tidak menerima dosen perempuan. Oooh…
Gaji dosen honorer waktu itu hanya sekitar 30 ribu sebulan. Belum lagi untuk melanjutkan S2, waah sungguh sungkan kalau harus meminta ke ortu. Sedangkan saat itu, pendapatan saya dari mengajar les privat dengan waktu yang bebas, santai dan menyenangkan, sudah mencapai 400-500 ribu sebulan.

(Note: Mengapa saya sedikit berpikir matere’ waktu itu? Toh saya masih fresh graduate. Tak lain dan tak bukan adalah karena dendam saya dengan keadaan yang serba pas-pasan. Alhamdulillaah saya senang dan enjoy menjalaninya, tapi kalau diminta mengulang sikon pas-pasan itu nyesek rasanya :))

Kecewa? Pasti.. Hhhmm.. tapi karena saya masih sangat imut waktu itu, segera terhapus dengan semangat hunting kerjaan di pabrik. Sempat 1 tahun terdampar di pabrik bola tenis. Sebenarnya pekerjaan dan tim menyenangkan, tapi polusi bahan karet yang tidak bagus untuk kesehatan, owner yang pemarah, dan sistem penggajian yang tidak fair, membuat saya banting setir ke bidang makanan atau yang deket-deket itulah.

Maka, jatuh cintalah saya dengan dunia terigu, perbakingan, dan segala perniknya hingga saat ini.
Kalau ditanya, apa impian dan cita-cita saya di bidang kerja yang satu ini?
Impian saya adalah satu tantangan atau satu loncatan karir lagi.
Siapa tau Allah mengijinkan saya untuk bekerja dengan lebih banyak menebar manfaat, saya ingin bekerja dengan waktu yang tidak terikat jam kerja. Mempunyai baking lab mini, bereksperimen dan berkantor di rumah, laporan dan meeting lewat teleconference, dan sesekali memberikan pelatihan dan konsultasi. Bener-bener mimpi ya?
Adakah perusahaan internasional yang membutuhkan kriteria seperti itu? Namanya juga impian… bebas-bebas saja dong ya?

Bermimpilah selagi bermimpi itu masih gratis… 🙂

 

Ikuti/suka/bagikan
RSS
Follow by Email
Facebook
Facebook
SHARE
LinkedIn
Instagram

One thought on “Antara Pekerjaan dan Impian”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *