Category Archives: Syukur

Penguat Hati

Dengerin sepatah kata–nya I Gede Prama di radio tadi sambil berangkat kerja, dihubung-hubungkan dengan ibu pekerja macam saya ni.. atau lingkungan kerja, kok pas juga ya.
Ini nih ringkasannya:
1. Kalau kita sering bertemu dengan orang yang pemarah, berbahagialah karena sebenarnya orang pemarah adalah guru bagi kita untuk belajar sabar.
2. Kalau kita berhadapan dengan orang yang suka menyakiti hati kita, bersyukurlah, karena sesungguhnya itu adalah tempaan agar kita kuat.
3. Kalau kita selalu berhadapan dengan orang yang sulit, bersyukurlah karena hal itu mengajarkan kita untuk selalu “aware” dalam kehidupan.

Hhmm… by the way.. kalau di pekerjaan berlangsung mulus-mulus ajah, … Selanjutnya

Mengubah Sudut Pandang

Menyambung postingan sebelumnya, berikut ini ada beberapa contoh pengubahan sudut pandang :

Saya BERSYUKUR:
1. Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan, karena itu artinya ia bersamaku bukan dengan orang lain
2. Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena itu artinya ia berada di rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat mesum.
3. Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan
4. Untuk Tagihan Pajak yang cukup besar, karena itu artinya saya bekerja dan digaji tinggi
5. Untuk … Selanjutnya

Ujian Bukan Hukuman…

Nyesss… rasa hati ini waktu kemarin curhat sama Pak Jadi, ustadz sejak kami kecil dulu.. Kata beliau… Musibah dan cobaan itu adalah ujian bagi orang beriman, jadi tidak ada istilah laknat ataupun hukuman…

So.. Musibah n cobaan adalah ujian bagi orang yang beriman. Insya Allah kita diberi ketabahan dan keikhlasan dalam menerimanya.

Yangkung pernah sms “Mau naik kelas itu kan perlu ujian dulu…, jadi ya sabar..”

Insya Allah kami tau itu. Tapi saat ini kami cuman butuh ruang dan waktu untuk bisa benar-benar menepiskan rasa kehilangan dan kangen kami pada bunga hati kami.… Selanjutnya

Bersyukur dalam Ujian

Saya perlu menuliskan hal-hal yang tetap harus kami syukuri meski bunga hati kami, Claudia Zahra Ariva, telah dipanggil kembali oleh-Nya Kamis 3 April 2008 02.18 lalu. Saya harus menuliskannya agar kami tidak terjebak dalam pertanyaan-pertanyaan: mengapa Allah hanya sesaat mempercayakan titipan-Nya pada kami, mengapa dokter tidak mendiagnose langsung dengan jelas di awal, andaikan kami punya banyak waktu, apakah ini ujian atau hukuman atas dosa kami, apakah …., mengapa… Berpuluh apakah dan mengapa sering terbersit bila kami ingat Kakak (begitu panggilan sayangnya di rumah). Astaghfirullaahal adziim…

Takut pertanyaan-pertanyaan kami yang manusiawi sekali itu merusak keikhlasan kami bahwa Allah berhak sewaktu-waktu mengambil … Selanjutnya