Tag Archives: Kakak

15 September Kami

Hari ini, jam 08.35, sepuluh tahun lalu, lahir bunga hati kami. Andaikan masih bisa memelukmu sekarang Nak. Meski kami sadar anak hanyalah titipan-Nya semata namun kepedihan ini belumlah sirna 100%. Kelahiran Kania 5 bulan lalu memang menghibur hati dan menyejukkan. Namun mimpi indah Ibu bersamamu masihlah terus diharap. Tenang dan rianglah selalu anakku, bermain-main di taman surga. Sesekali datanglah…pengobat rindu Ibu, meski sebatas mimpi.

Memory of Sept 15, 1999 – break on Apr 3, 2009Selanjutnya

Surat Buat Kakak di Surga

Hari ini setahun yang lalu, Kakak pergi meninggalkan kami. Kenangan dan peristiwa banyak berseliweran di memori Ibu hari-hari ini. Mengingat saat-saat terakhir kepergian Kakak ataupun keriangan Kakak dalam seragam sekolah. Duh.. kok ya akhir-akhir ini tiap pulang kerja selalu saja ketemu teman-teman SD Kakak. Kalau diterus-terusin memang pasti kami-kami ini (Ibu n Bapak) selalu saja “termehek-mehek” terbawa emosi mengenangmu. Namun hari ini Ibu ingin merenung ada apa ya di balik semua ini.

lentera-jiwa1Ibu sudah gak suka bulan April sejak tahun lalu. Meskipun ada ultah Ibu n anniversary Bapak Ibu dalam bulan itu. Tapi Kakak bikin “kejutan” untuk ultah Ibu … Selanjutnya

Ultah Kakak Tanpa Kakak

Hari ini, andaikan Kakak masih ada, genap 9 tahun usianya. Semalam hati sudah gelisah, ada sesuatu yang tertahan. Hingga tadi pagi Bu Ning, Bunda Eha dari Cilacap, sahabat Kakak semasa sekolah di BIAS menelpon. Eha ingin mengatakan sesuatu, namun tak terdengar kalimatnya yang terbata-bata. Ibu akhirnya mengucapkan selamat ulang tahun buat Eha Kak, semoga diberi kesehatan n jadi anak shalihah, sehingga selalu bisa berdoa buat Dea. Bunda Eha bilang selalu mendoakan Dea n memberi semangat untuk selalu berdoa n berserah diri.

Sembilan tahun lalu, kira-kira jam sepagi ini (08.35) Kakak lahir dari rahim Ibu. Siapa yang menduga ya Kakak yang … Selanjutnya

Ramadhan Tanpa Kakak

Sepi .. gak ada Kakak. Kemarin pagi Ibu mimpi rasanya Kakak masih ada. Sepertinya hari Sabtu-Senin libur. Tapi kok Kakak sepertinya dititipkan di sekolah, padahal kita sudah berencana mau ke Cilacap. Sudah gitu harus jemput dik Taj di Semarang. Dalam mimpi dik Taj sudah kelihatan siih… Ibu ngoyak-ngoyak Bapak yang gak segera siap-siap buat jemput Kakak. Tau sendiri kan, Bapak emang suka gitu orangnya, gak on time (waktu Indonesia bagian Ibu, he..he..). Ibu sampe marah-marah ngebayangin Kakak yang pasti udah nungguin kita-kita. Tapi yaa.. belum sempet berangkat n ketemu Kakak, Ibu sudah bangun deh….. Duh.. gak jadi ketemu..… Selanjutnya

Seratus Hari Tanpamu…

Hari ini genap seratus hari tanpa Kakak di tengah-tengah kami. Masih sering terasa tersayat hati ini bila mengenang hari-hari riang bersamanya. Namun hidup memang harus dijalani dengan segala ujian dan berkah dari-Nya.
Seratus hari tanpa Kakak…. Semoga Ibu lebih bisa menerima ya Kak.. Hari ini meeting di kantor, ada project buat Ibu, pekerjaan yang pernah sangat Ibu sukai. Semoga ke depan Ibu lebih bisa punya motivasi melanjutkan hidup. Juga dengan pekerjaan Ibu yang lain, he..he..
Seratus hari tanpa Kakak…. We are coming Kak.. Sore ini Bapak, Ibu n dik Taj akan menengok “rumah Kakak”.… Selanjutnya